Thursday, December 6, 2007

Tips Mencari Baby Sitter

Tiara Kasih Bunda: Suasana Belajar yang Kondusif

Perubahan sosial di masyarakat terus berubah semakin cepat, seperti halnya soal pengasuhan anak dalam keluarga. Dahulu, lazimnya seorang ibu rumah tangga cukup di rumah saja mengurusi segala pernak-pernik urusan rumah tangga, seperti mengasuh anak, memasak, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Namun kondisi itu secara berangsur sudah bergeser, terlebih karena semakin banyak pasangan suami-istri yang bekerja atau yang sering juga disebut keluarga double income. Jumlah wanita karir terus meningkat dari tahun ke tahun. Arus emansipasi ini pada akhirnya merubah pandangan di tengah masyarakat, bahwa dalam hal mengasuh anak sudah banyak yang mempercayakan kepada pengasuh yang biasa kita kenal sebagai baby sitter. Bahkan ibu yang tidak bekerja sekalipun tidak sedikit yang menggunakan jasa baby sitter untuk menjadi seorang ‘asisten’ dalam aktivitas sehari-harinya.

Kebutuhan akan jasa pengasuh/pendamping terus meningkat secara signifikan, ini tercermin dari semakin banyaknya jasa penyelia yang mendidik dan menyelurkan baby sitter, suster jompo hingga PRT. Dari sebuah situs majalah di internet dewasa ini ada sekitar ratusan yayasan yang tersebar di Jabodetabek. Bahkan pelatihan/pendidikan suster dewasa ini cendrung semakin terspesialisasi, misalnya : Nanny (pengasuh untuk anak new born dan anak usia 1-3 tahun), Governess (pendamping anak usia sekolah TK/SD), Old Folk Nurse (suster jompo) dsb. Kekhususan ini membutuhkan materi kurikulum pengajaran yang berbeda pula, supaya keahlian seorang suster dapat memenuhi kebutuhan pengguna jasa nantinya.

Untuk mencari seorang pengasuh/pendamping anak yang kompeten tentunya banyak cara yang bisa dilakukan dengan berbagai plus minusnya. Ada yang mendapatkannya melalui refrensi teman seorang suster, dari penyalur perorangan, yayasan, dsb. Untuk itu kami berikan beberapa tips yang bisa menjadi masukan dalam memilih seorang baby sitter.

1. Wawancara, salah satu cara mengukur kemampuan seorang calon baby sitter adalah dengan interview baik langsung maupun melalui telepon (bila tidak ada waktu). Beberapa pertanyaan bisa mengukur kwalifikasi seseorang suster, misalnya: berapa lama pendidikan, hal apa saja yang dipelajari, berapa lama pengalaman kerja, senang kepada anak-anak atau tidak, uji kemampuan matematika (berhitung), bahasa (inggris/mandarin dsb), menyanyi, mendongeng, menggambar, menulis, membaca, dsb. Namun, hasil wawancara juga belum menjamin kebenaran hasil test. Butuh waktu dua hari sampai satu minggu bagi seorang suster menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Setelah itu, sebenarnya sudah bisa diduga bagaimana kwalifikasi yang dimilikinya, ajukan garansi sebelum masa berlakunya habis. Yayasan yang baik, masa garansi akan diperpanjang bila masa garansi telah habis sebelum mereka dapat memberikan suster pengganti.


2. Pengalaman kerja bisa juga menjadi tolok ukur. Suster yang sering pindah kerja dalam waktu relatif singkat menunjukkan kwalifikasi yang rendah. Hal apa saja yang menjadi tugasnya dalam pekerjaan sebelumnya. Mengapa mereka akhirnya pindah. Dari interaksi dan sikap suster dalam wawancara, ditujukan agar bisa dipastikan tentang hal penting lainnya: kejujuran dan layak dipercaya. Itu dari sisi sorang suster demikian juga perlu ditanya komentar yayasan atas suster yang akan dikeperjakan.
3. Cari baby sitter dari yayasan, tentu harus membayar biaya administrasi namun beberapa keuntungan yang akan diberikan bila mengambil suster dari yayasan, misalnya menghindari risiko sindikat pencurian yang terorganisir yang biasa terjadi dari penyalur perorangan atau suster refrensi dari seseorang. Yayasan yang resmi umumnya memberikan pendidikan dan garansi pergantian dalam tenggang waktu tertentu. Dan kecil kemungkinan pihak yayasan mau ambil risiko untuk kerja sama dalam sindikat terorganisir dengan mengorbankan keuntungan jangka panjang. Biasanya seorang suster diminta jaminan izasah asli yang menjadi jaminan selama suster bekerja. Untuk membuktikan sebuah yayasan resmi atau tidak bisa dilakukan dengan datang langsung (mengamati: nama yayasan, alamat), menanyakan bukti, namun kalau hal itu terlalu sulit dilakukan bisa melalui brosur yayasan, atau dari orang yang mengetahui keberadaan yayasan tsb, seperti pengguna jasa. Bisa juga melalui iklan di media, ada kalanya iklan untuk baby sitter pada media besar meminta persyaratan melampirkan copy izin yayasan. Misalnya : Nova, Kompas, dan media besar lainnya.
4. Kenali yayasan penyelia lebih jauh, informasi tentang yayasan bisa dicari dari pengguna jasa yang sudah pernah mengambil dari yayasan bersangkutan, namun sering kali keluhan pengguna jasa ditulis di internet, dan dengan searching di google misalnya, bisa diketahui hal-hal buruk yang pernah terjadi di yayasan bersangkutan. Ada kalanya pemasang iklan di media menyebut sebagai yayasan resmi, meskipun statusnya hanya sebagai penyelia perorangan dan alamatnya kurang jelas, dan bila terjadi masalah sering tidak dapat dihubungi lagi. Keberadaannya sering berpindah-pindah dengan nomor telepon berganti-ganti, suka memberi beberapa kemudahan, seperti : biaya adm yang murah, tidak ada potongan, tanpa surat perjanjian, garansi yang muluk-muluk. Ada juga yayasan yang tidak melakukan trainning terhadap baby sitter, biasanya hanya direkrut dari baby sitter pindahan atau suster yang sudah berhenti bekerja.
5. Keuntungan apa saja yang diberikan, selain adanya garansi pergantian, seorang calon pengguna jasa berhak untuk menanyakan keuntungan apa saja yang akan diperoleh bila ia mengambil baby sitter dari yayasan yang bersangkutan. Misalnya (biasanya dimasukkan dalam pasal-pasal perjanjian): jaminan keamanan, boleh tidaknya suster mempergunakan HP, garansi after sales service: pengembalian/pemberhentian suster, pelanggaran perjanjian, tindakan kriminal, dsb. Sangat logis, bila uang yang Anda keluarkan harus sebanding dengan manfaat yang akan diterima. Bukti identitas jelas, suster haruslah memiliki KTP atau setidaknya surat pengantar dari kelurahan, memiliki izasah/sertifikat, bukti rongent (kesehatan) serta yang lainnya. Dokumen ini dapat menunjukkan kejelasan asal usul seorang suster dan bila terjadi sesuatu hal bisa lebih mudah ditelusuri keberadaannya. Yayasan yang resmi biasanya mendata calon suster beserta keluarga dekatnya yang bisa dihubungi. (MVW)

Friday, July 13, 2007

Home Schooling

Suster belajar serius: Persiapan menghadapi dunia kerja



"Home Schooling" Alternatif Pendidikan Non-formal Jakarta

'Home Schooling' menjadi alternatif pilihan pendidikan nonformal bagi anak-anak yang enggan belajar secara formal di kelas."Pendidikan ini dapat dilakukan di mana saja dan membuat anak merasa bebas tanpa ada paksaan," kata Pendiri Home Schooling Kak Seto atau nama lengkapnya Seto Mulyadi, di Jakarta, Rabu.Dia mengatakan keputusan untuk mengikuti home schooling ini haruslah sepenuhnya dari keinginan anak, tanpa paksaan dari orang tua.Menurut dia, kesuksesan untuk dapat menjadi guru yang baik bagi anak-anak adalah dengan cara bersabar, mengajarkan tanpa paksaan, dan dengan bahasa yang lembut."Tidak perlu dengan paksaan dan suara tinggi. Lakukan dengan senyum, maka mereka akan senang," katanya.Dia mengatakan ada beberapa klarifikasi format home schooling yang diperkenalkan, yakni home schooling tunggal yang hanya dididik oleh orang tua, home schooling majemuk yang dilaksanakan dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu, sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing.Dan terakhir, dia menyebutkan komunitas home schooling yang merupakan gabungan beberapa home schooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan mengajar, kegiatan pokok seperti olahraga, musik dan seni, serta sarana dan jadwal pembelajaran.Salah seorang murid Kak Seto yang juga memiliki home schooling untuk balita, Shelomita, mengatakan terkadang orang tua tidak yakin dapat menjadi guru yang baik bagi putra-putrinya sendiri.Menurut Shelomita, pada awalnya dia juga merasa khawatir apakah mampu untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. Namun, akhirnya dengan kepercayaan diri sanggup menjadi guru sekaligus orang tua bagi anak-anaknya.Alasan dia membuka home schooling untuk balita, yakni ingin memberi kebebasan pada anak-anak, tapi tetap dapat belajar. (antara)

Berikut wawancara Dhanang Sasongko (Sekjen Asosiasi Sekolah Rumah dan Sekolah Alternatif) tentang home schooling.

Apa sebetulnya home schooling (HS) itu? Apakah itu maksudnya kita sekolah di rumah dengan mengundang guru ke rumah atau kita belajar bersama?

Kalau di Amerika Serikat (AS) dan di dunia, HS sudah lama berkembang. Di Indonesia mungkin ada yang namanya Proses Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). HS terdiri dari tiga jenis. Pertama, HS tunggal. Ini penggiatnya adalah satu keluarga. Kemudian HS majemuk terdiri dari dua keluarga, dan terakhir HS komunitas. Komunitas ini dibentuk dengan metode pembelajarannya secara tutorial. HS tunggal dilakukan di rumah. HS itu adalah bagaimana proses kegiatan belajar, di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa saja.

Bagaimana sistemnya? Maksudnya, jika saya sebagai orang tua ingin memasukkan anak ke HS, apakah saya harus berhubungan dengan Anda lalu apakah Anda mendesain kurikulum dan sistem sekolah sendiri atau kita dilibatkan?

Itu berarti masuk ke HS komunitas. HS Komunis adalah beberapa keluarga memberikan kepercayaannya untuk mendidik anak-anaknya ke dalam HS. Proses pembelajarannya melalui tutorial. Ini ada di salah satu metode HS Kak Seto.

Siapa tutornya?

Kita mempunyai tim yang namanya Badan Tutorial. Mereka terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan. Mereka melaksanakan, misalnya, pertemuan dua kali dalam satu minggu. Ada paket A setara dengan Sekolah Dasar (SD), paket B setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan paket C setara Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi kunjungannya adalah kunjungan ke komunitas. Bila keluarga atau peserta didik kekurangan informasi akademisnya maka mereka bisa memanggil gurunya ke suatu tempat. Jadi komunitas itu menyediakan suatu tempat. Misalnya, komunitas Berkemas yang dipimpin Ibu Yaya atau Mbak Neno Warisman itu tempatnya di Pejaten. Mereka berkumpul selama tiga jam. Hari Senin adalah untuk setara SMA, jadi anak kelas satu, dua, dan tiga belajar dalam satu ruangan.
Kalau di sekolah formal kita melihat kelas satu berada di dalam satu ruangan, kelas dua di ruang lain dengan materi pelajaran yang berbeda. Jadi bagaimana proses belajar HS jika semua digabung dalam satu kelas karena pada akhirnya mereka juga mengikuti ujian akhir?
Kita memberikan masing-masing peserta didik kebebasan dalam memilih pembelajaran tapi tidak terlepas dari kurikulum. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum 2004 yaitu kurikulum berbasis kompetensi, atau kurikulum terbaru kurikulum 2006. Jadi tetap ada acuannya karena nanti di ujung dari proses pendidikan HS ada ujian kesetaraan. Kalau di pendidikan formal itu Ujian Nasional (UN), sedangkan di pendidikan non formal komunitas ini ada ujian kesetaraan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) atau komunitas yang sudah mendapatkan legalitas untuk bisa menyelenggarakan ujian tersendiri.
Dalam hal ini ada yang sudah bosan di kelas dua atau tidak nyaman di pendidikan formal, dia dapat pindah ke kelas tiga di HS. Itu tidak masalah karena berdasarkan prinsip Diknas untuk ini adalah multi entry and multi exit atau mudah untuk masuk dan mudah untuk keluar. Legalitasnya pun sudah dijamin oleh pemerintah. Dalam Undang-Undang (UU) No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD, SMP, maupun SMA.

Bagaimana metode pembelajaran untuk masing-masing HS yaitu tunggal, majemuk, dan komunitas?

HS ini metode pembelajarannya tematik dan konseptual serta aplikatif. Misalnya untuk tingkatan SD, dalam mempelajari alat transportasi maka mereka bisa pergi langsung naik alat transportasi. Misalnya, naik metro mini. Di metro mini ada sopir, kondektur, dan kita harus membayar. Jadi di HS kesempatan untuk mengenal langsung alat transportasi cukup besar. Lalu mereka turun dan naik busway dengan harus beli tiket dulu, antri. Kemarin saya mengajak mereka dari Grogol ke stasiun kereta api Kota untuk mengetahui bagaimana naik kereta dan kondisinya seperti nanti kereta itu penuh. Itu terekam sekali di otak anak-anak. Setelah itu, besoknya kita memberikan paparan mengenai alat transportasi. Kita coba tes ke anak-anak dan mereka bisa menulis mengenai alat transportasi berlembar-lembar.
Jadi itu mungkin keunggulan HS.
Ya, karena proses belajarnya tematik dan aplikatif. Contoh lain, kita ajak mereka untuk belajar menanam. Kita ajak ke ahlinya seperti ke Ciawi sekalian outbond. Mereka belajar cara menanam. Besoknya kita coba evaluasi dan mereka begitu antusias sehingga bisa menulis berlembar-lembar. Jadi benar-benar aplikatif. Kalau HS tunggal atau sendiri, orang tua bisa mengajarkan dari dia bangun tidur dan kapan dia mau belajar. Jadi belajar bukan sebagai kewajiban tapi kebutuhan bagi anak-anak. Jadi kalau saya sehari-hari mungkin melihat proses pembelajaran yang seperti di rumah Kak Seto. Anak beliau ada empat. Nah, yang tiga mengikuti HS dan yang satu pendidikan formal.

Jadi dalam hal ini orang tua terjun langsung?

Iya, terjun langsung. Kalau misalnya kekurangan informasi mengenai akademis, mereka bisa panggil tutor. Mereka mau tahu tentang bahasa Inggris maka mereka bisa ambil kursus. Jadi waktunya bisa lebih banyak, dan belajar sangat menyenangkan buat mereka karena memang didasari oleh kebutuhan.

Kalau melihat dari jenisnya, apakah HS komunitas memiliki kelebihan atau keunggulan dari yang lain?

Ini harus dilihat dari kondisi orang tuanya. Kalau kedua orang tua bekerja, tapi menginginkan anaknya untuk HS mungkin lebih tepat ke HS komunitas. Sedangkan untuk HS tunggal agak susah karena orangtua harus full. Jadi untuk komunitas itu sifatnya tutorial, dan hadir di kegiatan komunitas.

Pendidikan bukan hanya soal kita menambah pengetahuan atau ilmu di segala macam bidang, namun ada hal yang perlu juga seperti interaksi dengan kawan-kawan lainnya. Bagaimana sosialisasi pada murid HS?

Saya melihat sosialisasi anak-anak HS begitu terjaga. Kita mengajak mereka ke pasar. Kita perkenalkan juga kepada anak-anak pasar. Kita tanya, "Apakah kamu bersekolah atau tidak? Apa kegiatan kamu?". Lalu kita bawa juga mereka ke alam terbuka dan ke rumah singgah. Kalau lingkungan untuk pendidikan formal mungkin ada keterbatasannya. Temannya hanya itu-itu saja. Besok ketemu si A dan besoknya ketemu si A lagi karena satu lingkup sekolah. Sosialisasi di HS juga cukup efektif karena mereka bisa lebih banyak waktunya untuk berhubungan lewat internet. Mereka bisa lebih banyak ada kesempatan untuk pergi ke luar. Jadi mengenai sosialisasi tidak ada masalah. Yang paling penting juga adalah kita memberikan kemandirian, yaitu dalam belajar dan mengambil keputusan. Kita juga memberikan wawasan mengenai kewirausahaan. Jadi sejak dini mereka sudah dilatih untuk bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain.

Bagaimana kegiatan Anda dan teman-teman di Asah Pena selama ini seperti sejak kapan dan bagaimana keterlibatannya dalam proses HS ini?

Asah Pena baru saja menandatangani MoU dengan pemerintah sekitar 10 Januari 2007. Asah Pena adalah singkatan dari asosiasi sekolah rumah dan pendidikan alternatif. Ini merupakan suatu wadah home schooler (peserta didik – Red) baik tunggal, majemuk, ataupun komunitas. Asah Pena dibentuk atas keinginan masyarakat dan didukung oleh Depertemen Pendidikan Nasional. Kelihatannya cukup efektif karena selama ini pendidikan alternatif selalu dicitrakan dengan pendidikan yang kurang berkualitas. Dengan adanya Asah Pena maka bisa mendata secara administratif seberapa banyak sekolah alternatif, HS, dan sebagainya.

Berapa banyak peserta didik home schooling saat ini di Jakarta?

Banyak. Home schooler yang terdata di Jakarta ada 600-an. Dan untuk HS komunitas ada 8 - 10 komunitas.
Apa kira-kira yang harus dilakukan bila ingin menyekolahkan anaknya melalui pendidikan alternatif atau HS karena informasinya sangat terbatas?
Jika ingin mendapatkan informasi mengenai HS bisa melalui Asah Pena di nomor telepon 0817-831813 atau perwakilan Asah Pena di telepon (021) 8195601. Biayanya berbeda-beda seperti ada uang pangkal, iuran tahunan, dan iuran bulanan. Metoda pengajarannya dengan tutorial. Misalnya, uang pangkal untuk HS Kak Seto Rp 1,5 juta dan iuran tahunan Rp 2 juta untuk tahun ini. Untuk iuran bulanan berjenjang seperti untuk SMA Rp 450 ribu. Mereka mendapat modul dan modul pembelajaran untuk orang tua

Apakah belajarnya setiap hari?

Belajarnya satu minggu dua kali sebanyak tiga jam untuk masing-masing pertemuan. Kita mengarahkan supaya mereka nanti banyak belajar di rumah dan di lingkungan yang mereka mau belajar. Kalau mau menyelenggarakan HS tunggal, mereka bisa konsultasi ke Asah Pena dan mungkin rekan atau kerabatnya yang sudah menjalankan HS. Kita bisa mengambil metode bermacam-macam. Kalau kita mau kurikulum nasional maka materi pembelajarannya bisa didapat di toko buku dan sebagainya. Kalau mau mencoba kurikulumnya Neno Warisman maka bisa berhubungan dengan Mbak Neno. Nanti kurikulumnya bisa diberikan. Ada juga metodenya Kak Seto atau Berkemas. Ada 8 sampai 10 komunitas dan mereka sangat terbuka untuk memberikan informasi mengenai kurikulum.

Bagaimana dengan sertifikat atau ijazah kelulusan untuk HS karena biasanya kita mau tidak mau harus memiliki itu untuk mendapatkan akreditasi dan segala macamnya. Apakah legalitas itu sudah ada dari Diknas?

Diknas sangat memperhatikan sekali pendidikan alternatif. Kini sudah ada Direktorat Pendidikan Kesetaraan. Itu adalah pecahan dari Sub Direktorat Pendidikan Masyarakat untuk merespons HS, banyaknya Proses Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan banyaknya kekecewaan terhadap Ujian Nasional (UN). Orang tidak perlu khawatir untuk mendapatkan ijazah kesetaraan. Di SD ada ijazah kesetaraan untuk tingkat SD. Orang bisa ikut ujian kesetaraan dan jika lulus akan mendapatkan ijazah Kesetaraan SD, lalu SMP dan SMA juga ada. Ini bisa diterima oleh berbagai sekolah dan universitas. Jadi sudah dilegalitas oleh pemerintah.
Dalam hal ini memang ada kelemahannya di HS, yaitu tidak ada kompetisi atau bersaing. Tapi keunggulannya yang paling dominan adalah dengan terbatasnya jumlah peserta didik maka tutor bisa langsung fokus pada potensi masing-masing anak peserta didik. Di HS ada yang ingin jadi penyanyi, maka dia merasa tidak perlu untuk belajar kimia dan fisika. Kita mengarahkan sesuai dengan bakat dan potensi peserta didik masing-masing.
Ujian kesetaraan itu nanti ada yang namanya percepatan yang mungkin kualitasnya masih di bawah Ujian Nasional, tapi mereka bisa dipermudah dengan program percepatan. Misalnya, untuk menghadapi ujian biasanya kita intensif untuk tutorial terus selama dua bulan.

Sejak kapan HS ada di Indonesia dan apakah ada kisah sukses orang-orang yang ikut HS karena di masyarakat dia mendapatkan sertifikasi hampir sama dengan orang-orang yang sekolah formal?

Mungkin kita bisa melihat pada Ki Hajar Dewantoro. Jika saya melihat dari sejarah Ki Hajar Dewantor, tidak ada anak-anaknya mengikuti sekolah Belanda. Mereka HS. Lalu Ketua BEM UI sekarang dia ikut HS juga. Kalau di luar negeri yaitu Bill Gates dan Thomas Alfa Edison. Kalau saya membaca sejarahnya, mereka tidak belajar di sekolah formal. Malah mereka banyak sekali melakukan eksperimen di rumahnya. Ini untuk memperkuat supaya kita tidak khawatir. HS sama dengan sekolah formal pada umumnya. (perspektifbaru.com)

Thursday, May 31, 2007

Beberapa Kesalahan Merawat Bayi & Menghindarinya

Kami siap melayani Anda dengan senang hati



Walaupun orang tua sudah berusaha merawat bayinya sebaik mungkin dan saratdengan teori-teori yang dibaca dari buku-buku mengenai cara merawatbayi/anak, ibu dan ayah yang baru memiliki bayi masih sering melakukankesalahan. Mulai dari bayi yang tidak berhenti menangis sampai ke harusruang gawat darurat sebuah rumah sakit. Berikut kesalahan yang kerapdilakukan dan cara mengatasinya.


1. Menengok bayi yang baru lahir. Bayi berusia di bawah enam bulan memerlukan waktu untuk membentuk sistemketahanan tubuh yang kuat. Oleh sebab itu, Anda tidak boleh sungkan-sungkanmeminta teman dan kerabat yang datang untuk mencuci tangan sebelum memegangbayi Anda dan minta kepada mereka untuk tidak berada terlalu dekat denganbayi, terutama bila mereka sedang batuk atau flu.Selain itu, hindari keramaian. Bila harus membawa si kecil keluar rumah,gendong anak dan hadapkan mukanya ke wajah Anda untuk menghindari orang yangtak dikenal berada dekat-dekat dengannya,

2. PakaianBayi yang baru lahir sangat mudah kepanasan. Jadi, sebaiknya pakaikan baju yang tidak terlalu tertutup. Kenakan baju bayi sesuai cuaca sehingga diatidak merasa terlalu kepanasan atau terlalu kedinginan.

3. Kunci sebagai pengganti mainanMembiarkan anak Anda bermain dengan kunci sebagai pengganti mainan akanberisiko kunci tersebut dimasukkan ke dalam mulutnya. Bila gigi si kecilmulai tumbuh, simpan kunci-kunci karena kunci biasanya mengandung timah.Walaupun kadarnya rendah, tetap merupakan salah satu faktor penyebabpenurunan IQ. Kadar timah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan otak.

4. Tidur tengkurapPenelitian menunjukkan, bayi yang tidur tengkurap di atas selimut yanglembut berisiko 21 kali lipat terserang SIDS (sudden infant deathsyndrome/sindroma kematian bayi mendadak) dibanding bayi yang tidurtelentang di atas selimut yang tak terlalu lembut atau mudah bergeser.

5. Kekurangan cairan pada bayi yang tidak rewel Ada bayi yang tenang dantidak rewel dan orang tua mengira bayinya tidak lapar. Hal ini ternyatakeliru. Beri makanan pada bayi secara teratur dan perhatikan apakah ia sudahcukup makan atau belum. Tanda-tanda seorang bayi cukup makan adalah bilabayi mengompol paling tidak 6 kali dalam sehari pada usia satu minggupertama sesudah kelahirannya. Bila Anda tidak melihat tanda-tanda ini,konsultasikan ke dokter.

6. AntibiotikBanyak orang tua yang meminta dokter untuk memberikan antibiotik pada buahhatinya yang sedang sakit. Antibiotik tidak baik untuk penyakit yangdisebabkan oleh virus yang umum seperti flu, muntah-muntah, diare, dan sakittenggorokan (kecuali bila infeksi yang disebabkan oleh bakteristreptokokus). Selain itu, kebiasaan mengonsumsi antibiotik menyebabkan bayimenjadi kebal dan pada saat yang diperlukan antibiotik menjadi tidakberfungsi.

7. Dosis tepatBeri obat pada si kecil sesuai dengan dosis yang disarankan. Dosis untukbayi dan pada anak yang usianya lebih tua tidaklah sama. Untuk menghindaripemberian dosis yang berlebihan, ikuti saran yang diberikan dokter.

8. Benda-benda berbahaya"Suatu hari saya menemukan kapur barus di dalam hidung anak saya", ceritaseorang ibu yang mempunyai balita berusia 1,5 tahun. Begitu si kecil dapatmerangkak, periksa seluruh sudut rumah Anda, perhatikan hal-hal yangberbahaya yang dapat dijangkau oleh anak Anda. Pindahkan stop kontak yangberada di bawah, singkirkan vas, pajangan-pajangan lain yang terbuat daripecah-belah, ujung furnitur yang runcing, dan simpan obat-obatan dari tempatyang terjangkau oleh anak.

9. Anggapan bahwa alami berarti amanJangan menganggap bahwa produk alami aman bagi bayi sampai Anda mendapatkankepastiannya dari dokter Anda. Hal yang sama berlaku bagi obat-obatan yangdapat Anda temukan di internet. Cetak informasi tersebut dan konsultasikanpada dokter anak Anda.




TIPS PENTING : Kotoran bayi Anda tidak perlu khawatir. Kadang kotoran bayi anda tampak aneh. Ada bayiyang kotorannya tidak keras, ada pula yang agak keras.* Menggendong bayiPada usia 6 bulan sejak kelahirannya, sebaiknya Anda jangan terlalu seringmenggendong si kecil. DemamPada bayi usia 6 minggu, Anda tidak perlu khawatir bila panas badannyamencapai 37°C sejauh dia tampak aktif dan gembira. Anda tidak perlumelarikannya ke rumah sakit, cukup menelepon dokter anak Anda. (Kuncoro)

Monday, May 7, 2007

Mitos-mitos Perawatan Bayi

Banyak mitos tentang perawatan bayi yang berkembang dan terus dipertahankan di masyarakat. Sebagian salah, tapi ada pula yang secara ilmiah benar. Perawatan bayi (baby nursing) memang sangat dipengaruhi oleh budaya setempat. Menurut spesialis anak Dr. H. Adi Tagor, Sp.A, DPH dari RS Internasional Bintaro, "Zaman dulu, tradisi perawatan bayi ini disampaikan dalam bentuk mitologi, folklor, atau cerita rakyat yang diturunkan oleh orangtua, karena belum ada sistem isyarat kedua seperti tulisan." Beberapa di antara mitos tersebut memang salah secara ilmiah. Misalnya bayi jangan diajak keluar rumah saat maghrib, karena akan diganggu "penunggu" rumah. Padahal, yang terajdi adalah temperatur alam menjelang matahari terbenam memang meningkat, termasuk perubahan tekanan udara, kelembapan udara, perubahan temperatur. "Ini akan menggelisahkan bayi yang memang belum bisa dengan cepat menyesuaikan diri. Soalnya, organ tubuh bayi itu kan, belum sempurna, tidak seperti orang dewasa yang sudah biasa. Akibatnya, bayi akan mengalami uneasy feeling dan rewel karena adanya perubahan alam tersebut," ujar Adi. Selain itu, ada yang disebut ritme sirkadian. "Badan manusia mengalami bioritme yang ada hubungannya dengan waktu," jelas Adi. Pada bayi, bioritmenya belum stabil. Karena itu, bioritme bayi yang baru lahir sampai usia 2 bulan kadang-kadang masih terbalik. Siang dianggap malam, sementara malam dianggap siang. "Ini karena bayi belum bisa menyesuaikan diri dengan living environment dimana manusia sibuk saat siang. Tapi, lama-lama ia akan menyesuaikan dengan tuntutan sosial sekaligus perubahan alam tersebut. Secara alamiah, bioritme ini akan berubah dengan sendirinya." Namun, mitos atau tradisi itu tidak selamanya jelek, dan seringkali bahkan cocok secara ilmiah. Contohnya, selama ratusan tahun bawang yang dicampur minyak dikenal bisa menurunkan panas. "Itu secara ilmiah benar, karena bawang adalah tumbuhan yang mengeluarkan minyak yang mudah menguap dan menyerap panas." Atau upacara tedak siti (menginjak tanah) saat bayi berusia 6-7 bulan. "Secara ilmiah pun ternyata tak salah, karena pas dengan usia refleks menapak bayi." Di permukaan badan terdapat putik saraf yang bisa menjadi sensor tekanan. Nah, saraf ini tumbuh saat bayi 6 - 7 bulan, bersamaan dengan tumbuhnya struktur otak untuk keseimbangan dan alat-alat keseimbangan untuk posisi berdiri. "Tak heran jika di usia ini, bayi sudah mulai belajar menapak." Namun, ada juga mitos yang salah. Dan orangtua, karena turun-temurun, biasanya memegang teguh tradisi itu. "Jadi, kalau mau ngasih input ilmiah, harus pelan-pelan. Jangankan tradisi, ilmu kedokteran pun dari waktu ke waktu selalu dikoreksi," lanjut Adi. "Manusia hidup dalam suatu kerangka subkultur tertentu. Nggak bisa ia hidup di luar kultur tempat ia hidup. Jadi, isinya saja yang diperbaiki." Yang jelas, sebaiknya jangan langsung dicabut dari akar budayanya. Misalnya, orangtua mengaji saat Maghrib agar anaknya tidak "diganggu" makhluk halus. "Itu kan nggak ada ruginya, jadi biarkan saja. Kecuali, jika tradisi itu memang membahayakan, ya harus dilarang."

Monday, April 23, 2007

Selecting a Baby Sitter


TKB: Memberikan pelayanan terbaik untuk Customer


Parents, either couples or single parents, all require time off now and then, time away from their children, to get their second wind, visit with friends, or perhaps take a course that interests them. Parents tend to find their children much more delightful when they have had some time to themselves. However, time away from home is enjoyable only when parents are secure in the knowledge that their children are in good hands.

How do parents go about providing safe services so they can enjoy that important time away from home? First of all, try to avoid feeling as if you arc hiring a substitute parent when you select a baby sitter. No matter how conscientious the sitter, she will not care for the child in precisely the same way as a parent, and it's both unfair and unwise to expect a carbon copy parent. Once convinced that the sitter is a decent, kind individual, then it is best to allow that person to be herself (within the framework of the family's needs and rules) and to react with her own good judgment.



The InterviewBefore placing a child in the care of an utter stranger, an interview should take place and references requested and scrutinized. This is the time for direct questions and answers and also an opportunity for the parent's instincts to come into play. Does the prospective caregiver seem to be a warm, flexible human being? Does she have views on discipline that are reasonably close to yours? Does she seem to like children and to be comfortable around them? It may be wise to be somewhat cautious about a prospective sitter who seems overly concerned with neatness and cleanliness, who seems inflexible or depressed.
The interview is the proper time to discuss hourly or evening rates. Does the sitter charge or is the parent willing to pay a higher rate after midnight? This is also the time to settle the matter of transportation. Does the sitter provide her own or does she expect to be picked up and returned home?

It is only fair to give the sitter general information and specific instructions about your child and your home. Be very clear about what you want her to do in your absence. Describe the routines in your home, particularly the ones that involve the child. Do you read him a story before he goes to bed? Do you feel strongly that he should not watch certain violent television programs? Do you have very definite ideas about discipline! A parent has every right to expect the sitter to follow these general guidelines, still leaving plenty of space for fun and initiative and creativity.


Advance Preparation
Prepare a sheet of vital information for your sitter, and leave it in a convenient place such as directly over the telephone. The list should include:
Your name, home address, and phone number. This may seem unnecessary but, in an emergency, sitters have been known to "blank out" while trying to give this critical information over the phone.
The phone numbers of your doctor, the police department, and the fire department.
The name, address, and phone number where you can be reached.
The name and phone number of nearby neighbors to be contacted in an emergency. (This should be cleared with the neighbors in advance.)
As a back-up, the phone number and name of a relative or close friend.
The time you expect to return. If there is any change in plans, and you find you are going to be late, be sure to let the sitter know. There may be people she will need to notify so they won't worry about her.


Active DutyAfter the sitter arrives, plan to stay on the premises for at least 15 or 20 minutes. 'Me child should be told in advance that Mother and Father are going out and that "Susie" will stay with him. Even if he initially seems accepting, it is not unusual for a youngster to burst into tears when he realizes his parents are actually going to leave him.

Although his tears may be genuine, they will most likely fade fast once he recognizes the inevitability of his parents' departure and that there is nothing he can do to make them waver. This is especially so, if the sitter is quick with a reassuring statement such as, "You know, when I was your age, I used to cry when my parents went out too. You can make other Suggestions for breaking the ice or staunching the tears. The sitter can tell the child she likes his house-and-why. She can tell the youngster that she knows somebody else with the same name he has, a topic that almost never fails to fascinate a child. Suggestions like these from a parent serve to convince the sitter that you deeply care about the quality of the time she will be spending with your child.

During the interval before leaving home, take time to show the sitter the location of essential things. If you live in an apartment building, point out emergency "its or fire escapes. Leave candies and a flashlight handy in case of a possible power failure. Test the batteries. Explain where to find Band-Aids and review simple home remedies for a bump or a bruise. However, juvenile sitters should not be expected or allowed to give medication to a child.
If the parents are going out for the evening, the sitter should be told what snacks the child is permitted as well as snacks for herself. (if you plan to use the sitter again, be generous with snacks.) If the parents are going out during the day and meals will be involved, appropriate and simple instructions should be given. It's difficult to find one's way in a strange kitchen, so necessary implements should be set out.

Family PoliciesEach family and situation is different but there are general rules and procedures that should be covered in any babysitting situation. Is it okay to use the telephone! Perhaps it would be wise to specify the length of phone calls in case you need or want to reach home, Is the sitter allowed to invite a friend for company or to work on a homework assignment? Same sex? Different sex? More than one? A group of friends on a baby sitting assignment is seldom a good idea.
What are the rules about answering the door? Certainly a sitter shouldn't let anyone she doesn't know into the apartment or house, no matter who they may claim to be. It's too bad if a good friend or relative is refused admission but actually that's a sign that the sitter is doing her job well. Leave instructions on how to answer the phone. If you are expecting an important call, describe how you would like it handled, take a message? Call back the following day?
Be sure to reaffirm any important routines and habits that were covered in the interview: What time the child is to go to bed. is a night light turned on; is the door to his room left ajar; does he have special stuffed animals he likes to take to bed, etc.

Does the child have homework! If so, is the sitter willing and/or able to help? Is the sitter expected to do some simple household chores, such as washing dishes? if so. is extra pay involved? Jot down any special words the child uses for certain items or functions.
In one baby sitters' manual, the sitter's creed was given; "Keep Them Happy, Keep Them Safe". That, after all, is what babysitting is all about. (Child Development Info)